Pengertian Dakwah

Diposting pada

Selamat datang di Pakdosen.co.id, web digital berbagi ilmu pengetahuan. Kali ini PakDosen akan membahas tentang Dakwah? Mungkin anda pernah mendengar kata Dakwah? Disini PakDosen membahas secara rinci tentang pengertian, dasar, tujuan, sumber, macam, karakter, faktor dan sarana. Simak Penjelasan berikut secara seksama, jangan sampai ketinggalan.

Pengertian Dakwah

Pengertian Dakwah

Pengertian Dakwah

Dakwah menurut etimologi (bahasa) berasal dari kata bahasa Arab : da’a-yad’u-da’watan yang berarti mengajak, menyeru, dan memanggil. Di antara makna dakwah secara bahasa adalah:

  • An-Nida artinya memanggil; da’a filanun Ika fulanah, artinya si fulan mengundang fulanah
  • Menyeru, ad-du’a ila syai’i, artinya menyeru dan mendorong pada sesuatu.

Dalam dunia dakwah, rang yang berdakwah biasa disebut Da’i dan orang yang menerima dakwah atau orang yang didakwahi disebut dengan Mad’u. Dalam pengertian istilah dakwah diartikan sebagai berikut:

  1. Prof. Toha Yaahya Oemar menyatakan bahwa dakwah Islam sebagai upaya mengajak umat dengan cara bijaksana kepada jalan yang benar sesuai dengan perintah Tuhan untuk kemaslahatan di dunia dan akhirat.
  2. Syaikh Ali Makhfudz, dalam kitabnya Hidayatul Mursyidin memberikan definisi dakwah sebagai berikut: dakwah Islam yaitu; mendorong manusia agar berbuat kebaikan dan mengikuti petunjuk (hidayah), menyeru mereka berbuat kebaikan dan mencegah dari kemungkaran, agar mereka mendapat kebahagiaan di dunia dan akhirat.
  3. Hamzah Ya’qub mengatakan bahwa dakwah adalah mengajak umat manusia dengan hikmah (kebijaksanaan) untuk mengikuti petunjuk Allah dan Rasul-Nya.
  4. Menurut Prof Dr. Hamka dakwah adalah seruan  panggilan untuk menganut suatu pendirian yang ada dasarnya berkonotasi positif dengan substansi terletak pada aktivitas yang memerintahkan amar ma’ruf nahi mungkar.
  5. Syaikh Muhammad Abduh mengatakan bahwa dakwah adalah menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari kemungkaran adalah fardlu yang diwajibkan kepada setiap muslim.

Dari beberapa definisi di atas secara singkat dapat disimpulkan bahwa dakwah merupakan suatu aktivitas yang dilakukan oleh informan (da’i) untuk menyampaikan informasi kepada pendengar (mad’u) mengenai kebaikan dan mencegah keburukan. Aktivitas tersebut dapat dilakukan dengan menyeru, mengajak atau kegiatan persuasif lainnya. Dakwah menjadikan perilaku Muslim dalam menjalankan Islam sebagai agama rahmatan lil’alamin yang harus didakwahkan kepada seluruh manusia, yang dalam prosesnya melibatkan unsur: da’i (subyek), maaddah (materi), thoriqoh (metode), wasilah (media), dan mad’u (objek) dalam mencapai maqashid (tujuan) dakwah yang melekat dengan tujuan Islam yaitu mencapai kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat.


Islam sebagai agama merupakan penerus dari risalah-risalah yang dibawa nabi terdahulu, terutama agama-agama samawi seperti Yahudi dan Nasrani. Islam diturunkan karena terjadinya distorsi ajaran agama, baik karena hilangnya sumber ajaran agama sebelumnya ataupun pengubahan yang dilakukan pengikutnya. Dalam agama Nasrani misalnya, hingga saat ini belum ditemukan kitab suci yang asli. Karena dakwah merupakan aktivitas amar ma’ruf nahi mungkar, dakwah tidak selalu berkisar pada permasalahan agama seperti pengajian atau kegiatan yang dianggap sebagai kegiatan keagamaan lainnya. Paling tidak ada tiga pola yang dapat dipahami mengenai dakwah.

Baca Lainnya :  Interaksi Sosial

Dasar Dakwah

Dakwah sebagai aktivitas di dalam kehidupan seorang muslim, maka sudah barang tentu aktivitas tersebut haruslah berlandaskan pada dasar dasar ajaran agama Islam itu sendiri Adapun pokok landasan ajaran Islam pada dasamya ialah AI-Qur’an dan al-Hadits. Sedangkan pelaksanaan dakwah tersebutjuga menyangkut komunikasi antar sesama manusia dalam masyarakat. Oleh karena itu, perlu diperhatikan pula peraturan-peraturan yang berlaku di dalam nasyarakat tersebutSehingga dengan demikian pelaksanaan dakwah tidak banyak mengalami hambatan-hambatan.


Tujuan Dakwah

Tujuan merupakan pernyataan bermakna, keinginan yang dijadikan pedoman manajemen organisasi untuk meraih hasil tertentu atas kegiatan yang dilakukan dalam dimensi waktu tertentu. Tujuan (objective) diasumsikan berbeda dengan sasaran (goals). Dalam tujuan memiliki target target tertentu untuk dicapai dalam waktu waktu tertentu. Sedangkan sasaran adalah pernyataan yang telah ditetapkan oleh manajemen puncak untuk menentukan arah organisasi dalam jangka panjang. Sebenarnya tujuan dakwah itu tidak lepas dari pembicaraan tentang Islam sebagai agama dakwah. Islam berintikan pengambilan fitrah manusia pada esensi semula sebagai hamba Allah dan sekaligus khalifatullah. Manusia adalah puncak ciptaan Allah yang tertinggi di muka bumi ini. Dan fitrah manusia paling hakiki yang diajarkan Islam adalah tauhid.

Secara umum, Dr M. Quraish Syihab mengemukakan tujuan dakwah dalam melihat peran intelektual nuslim sebagai unsur kontrol sosial adalah sebagai berikut:

  1. Mempertebal dan memperkokoh iman kaum muslimin, sehingga tidak tergoyahkan oleh pengaruh-pengaruh negatif dari kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi, atau paham-paham yang membahayakan negara, bangsa dan agama.
  2. Meningkatkan tata kehidupan umat dalam arti yang luas dengan mengubah dan medorong mereka untuk menyadari bahwa agama meajibkan meraka untuk berusaha menjadikan hari esok lebih cerah dari hari ini.
  3. Meningkatkan pembinaan akhlak umat Islam, sehingga memeliki sikap dan perilaku yang baik dalam kehidupan beragama, bermasyarakat dan bernegara.

Dari beberapa tujuan diatas dakwah bertujuan untuk mewujudkan individu atau masyarakat yang menghayati dan mengamalkan ajaran Islam dalam berbagai aspek kehidupan baik dari segi kualitas maupun kuantitas.


Sumber Materi Dakwah

Keseluruhan materi dakwah pada hakikatnya bersumber dari dua sumber, yaitu Al-Qur’an dan Al-Hadis. Menurut Hasby Al-Shiddiqiy, Al-Qur’an adalah kalam Allah SWT yang merupakan mu’jizat yang diturunkan atau diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW dan membacanya merupakan suatu ibadah. Sedangkan Al-hadits adalah segala sesuatu yang disandarkan kepada Nabi Muammad SAW baik berupa perkataan, perbuatan, pernyataan (taqrir), dan sebagainya. Secara khusus Al-Qur’an menjadi nama bagi sebuah kitab yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW, dan sebutan Al-Qur’an tidak terbatas pada sebuah kitab dengan seluruh kandungannya, tapi juga bagian ayat-ayatnya juga dinisbahkan kepadanya. Maka jika mendengar satu ayat Al-Qur’an dibaca misalnya, maka dibenarkan mengatakan bahwa si pembaca Al-Qur’an.

Baca Lainnya :  Kontaminasi adalah

Hadis atau Al-hadits menurut bahasa al-jadid yang artinya sesuatu yang baru lawan dari al-qadim (lama) artinya yang berarti menunjukkan kepada waktu yang dekat atau waktu yang singkat seperti (orang yang baru memelukagama islam). Hadis juga sering disebut dengan al-khabar yang berarti berita, yaitu sesuatu yang dipercakapkan dan dipindahkan dari seseorang kepada orang lain. secara umum fungsi hadis adalah untuk menjelaskan makna kandungan Al-Qur’an yang sangat dalam dan global atau li al-bayan (menjelaskan). Hanya penjelasan itu kemudian oleh para ulama diperinci ke berbagai bentuk penjelasan. Agama islam adalah agama yang mengatur ajaran kitab Allah yakni al-Qur’an dan Al-Hadits Rasulullah SAW. Dimana keduanya merupakan sumber utama ajaan islam . Oleh karenanya materi dakwah islam tidaklah dapat dilepaskan dari dua sumber tersebut. Bahkan bila tidak berstandar kepada keduanya (Al-Qur’an dan Al-Hadis) maka selruh aktivitas dakwah sia-sia dan dilarang oleh syariat islam.


Macam-macam Materi Dakwah

Secara umum, Materi Dakwah dikasifikasikan menjadi empat masalah pokok yaitu:

1. Masalah Aqidah

Masalah pokok yang menjadi materi dakwah adalah akidah Islamiyah. Aspek akidah ini yang akan membentuk karakter ber-taqarrub (medekatkan diri pada Allah) seorang hamba dengan haq (benar). Sebab, jika seorang hamba tidak memiliki pengetahuan tentang akidah yang benar, dikhawatirkan jalan menuju Allah bisa salah atau bahasa lumrahnya, bisa sesat. Oleh sebab itu, bagi seorang da’i, materi akidah ini harus diutamakan dalam berdakwah.


2. Masalah Syariat

Secara etimologi kata syari’ah berasal dari bahasa Arab, dari kata syara’a yang berarti jalan. . Secara terminologis, Muhammad Ali al-Sayis mengartikan syari’ah dengan jalan “yang lurus”. Kemudian pengertian ini dijabarkan menjadi: “Hukum Syara’ mengenai perbuatan manusia yang dihasilkan dari dalil-dalil terperinci”. Syekh Mahmud Syaltut mengartikan syari’ah sebagai hukum- hukum dan tata aturan yang disyariahkan oleh Allah bagi hamba-Nya untuk diikuti.


3. Masalah Akhlak

Secara etimologis, kata akhlaq berasal dari bahasa arab, jamak dari khuluqun yang berarti budi pekerti, perangai, dan tingkah laku atau tabi’at. Sedangkan secara terminology, pembahasan akhlaq berkaitan dengan masalah tabi’at atau kondisi temperatur batin yang mempengaruhi perilaku manusia. Sabda Rasulullah: sesungguhnya aku diutus dipermuka bumi ini untuk menyempurnakan Akhlak.


4. Masalah Muamalah

Islam merupakan agama yang menekankan urusan muamalah lebih besar porsinya daripada urusan ibadah. Ibadah dalam muamalah disini diartikan sebagai ibadah yang mencakup hubungan dengan Allah dalam rangka mengabdi kepada Allah SWT.


Karakter Dakwah

Apabila dikatakan “dakwah islamiah”, maka yang dimaksudkan adalah “Risalah terakhir yang diturunkan kepada Nabi Muhammad SAW sebagai wahyu dari Allah dalam bentuk kitab yang tidak ada kebatilan di dalamnya, baik di depan atau belakangnya, dengan kalam-Nya yang bernilai mukjizat, dan yang ditulis di dalam mushaf yang diriwayatkan dari Nabi Saw dengan Sand yang mutawatir, yang membacanya bernilai ibadah”. Dengan penjabaran demikian, dakwah Islam memiliki beberapa karakter yang membedakannya dari dakwah-dakwah yang lain. Ada beberapa karakteristik di antaranya ialah:

  1. Rabaniyah, artinya bersumber dari wahyu Allah Swt.
  2. Wasathiyah, artinya tengah-tengah atau seimbang
  3. Ijabiyah, artinya positif dalam memandang alam, manusia, dan kehidupan
  4. Waqi’iyah, artinya realistis dalam memperlakukan individu dan masyarakat
  5. Akhlaqiyah, artinya sarat dengan nilai kebenaran, baik dalam sarana maupun tujuannya
  6. Syumuliyah, artinya utuh dan menyeluruh dalam manhajnya
  7. Alamiyah, bersifat mendunia
  8. Syuriyah, berpijak di atas prinsip musyawarah dalam menentukan segala sesuatunya
  9. Jihadiyah, artinya terus memerangi siapa saja yang berani menghalang-halangi Islam, dan mencegah tersebarnya dakwah.
  10. Salafiyah, artinya menjaga orisinalitas dalam pemahaman dan akidah
Baca Lainnya :  Model Pembelajaran Artikulasi

Faktor-Faktor Keberhasilan Dakwah

Dakwah tidak akan berhasil apabila seorang da’i tidak menyerahkan dirinya secara totalitas untuk berjuang di jalan Allah. Dakwah yang berhasil ialah dakwah yang efektif membimbing manusia untuk amar ma’ruf dan nahi mungkar. Banyak faktor yang mendukung keberhasilan dakwah ini, di antaranya ialah:

  • Pemahaman yang mendalam
  • Keimanan yang kuat
  • Kecintaan yang kukuh
  • Kesadaran yang sempurna
  • Kerja yang kontinu

Dalam rangka mencapai tujuan yang mulia itu, seorang muslim harus bersedia menjual diri dan hartanya kepada Allah, sampai dia tidak memiliki apa-apa. Dia menjadikan dunia hanya untuk dakwahnya, demi untuk memperoleh keberhasilan akhirat, sebagai pembalasan atas pengorbanannya.  Allah Swt berfirman:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang yang beriman diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka (At-Taubah:111)


Sarana Dakwah dan Realisasi Target

Dengan pemahaman yang benar terhadap dakwah, kita berupaya melaksanakan pemahaman ini agar terjelma dalam kehidupan yang nyata, dan prinsip-prinsip yang dilaksanakan dapat disaksikan dan dirasakan pengaruhnya oleh manusia. Hal itu dilakukan melalui upaya untuk merealisasikan target-target berikut ini:

  1. Ishlah An-Nafs (perbaikan jiwa), sehingga menjadi seorang muslim yang kuat fisiknya, baik akhlaknya, luas wawasan berpikirnya, mampu bekerja, bersih akidahnya, benar ibadahnya dan bermanfaat untuk orang lain. Perbaikan ini menuntun hingga menjadi manusia asan takwim.
  2. Membina rumah tangga islami sehingga berimbas pada harmonisasi kehidupan dalam lingkup keluarga maupun masyarakat luas.
  3. Irsyad Al-Mujtama’ (memberi pengarahan kepada masyarakat) yakni dengan menanamkan prinsip amar ma’ruf nahi mungkar.
  4. Berdakwah kepada pemerintah untuk menerapkan syariat Allah dengan segala metode yang bijaksana dan akhlak islami
  5. Berdakwah untuk mewujudkan persatuan Islam dengan cara misalnya melakukan konsolidasi kepada negara-negara Islam.

Cara untuk mewujudkan target mulia tersebut ialah dengan cara sebagai berikut:

  • Melalui dakwah yang disampaikan dengan hikmah (bijaksana), nasihat yang baik, dan bantahan dengan yang baik pula
  • Dengan pendidikan Islam yang bermanhajkan Qur’an dan ajaran Rosul
  • Bangunan pendidikan Islam adalah tempat mereka dididik dengan pendidikan Islam.

Demikian Penjelasan Materi Tentang Pengertian Dakwah : Pengertian, Dasar, Tujuan, Sumber, Macam, Karakter, Faktor dan Sarana Semoga Materinya Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi.