Wawancara Adalah

Diposting pada

Selamat datang di Dosen.co.id, web digital berbagi ilmu pengetahuan. Kali ini PakDosen akan membahas tentan Wawancara? Mungkin anda pernah mendengar kata Wawancara? Disini PakDosen membahas secara rinci tentang pengertian, pengertian menurut para ahli, ciri, jenis, fungsi, tujuan, hubungan, pelatihan, pedoman, keunggulan, kelemahan, proses, tahapan dan contoh. Simak Penjelasan berikut secara seksama, jangan sampai ketinggalan.

Wawancara: Pengertian, Ciri, Jenis, Fungsi, dan Tujuan Wawancara

Pengertian Wawancara

Wawancara ialah suatu pembicaraan antara dua atau lebih orang yang dilakukan oleh interview dan informan. Ada juga yang mencetuskan bahwa wawancara ialah suatu struktur hubungan antar ucapan yang dilakukan secara teratur oleh dua orang atau lebih, baik secara terang-terangan maupun jarak jauh, untuk berbicara mengenai informasi tertentu guna untuk memperoleh tujuan tertentu. Wawancara mempunyai tujuan yang terbuka dan mempunyai manfaat yang melampaui maksud dari diskusi biasa. Teknik wawancara ini berlaku dengan adanya komunikasi keluar masukan antara interview dengan orang yang diwawancarai, untuk menelurusi objek tertentu yang dibahas.


Pengertian Wawancara Menurut Para Ahli

Berikut ini adalah beberapa pengertian wawancara menurut para ahli yaitu:

1. Menurut Lexy J Moleong (1991:135)

Wawancara adalah percakapan dengan maksud-maksud tertentu. Pada metode ini peneliti dan responden berhadapan langsung (face to face) untuk mendapatkan informasi secara lisan dengan tujuan mendapatkan data yang dapat menjelaskan permasalahan penelitian.


2. Menurut Sutrisno Hadi ( 1989:192 )

Wawancara, sebagai sesuatu proses tanya-jawab lisan, dalam mana dua orang atau lebih berhadap-hadapan secara fisik, yang satu dapat melihat muka yang lain dan mendengarkan dengan telinga sendiri suaranya, tampaknya merupakan alat pemgumpulan informasi yang langsung tentang beberapa jenis data social, baik yang terpendam (latent) maupun yang memanifes.


Cir-Ciri Wawancara

Setiap interview harus mampu membentuk keadaan yang kondusif dan tidak canggung selama wawancara. Dengan begitu, informan dapat menanggapi pertanyaan yang disampaikan. Berikut ini adalah ciri-ciri yang harus dipunyai seorang interview, yakni sebagai berikut:

  • Ramah

Interview harus sanggup membentuk keadaan yang menarik hati informan. Hal ini biasanya dilakukan dengan melakukan sebuah deskripsi melekat pertanyaan yang akan disampaikan.


  • Netral

Interview harus sanggup berbicara netral, dalam artian tidak merespon komentar sepakat atau tidak sepakat tentang pernyataan yang disampaikan oleh informan. Tugas utama interview ialah menampilkan pertanyaan dan mencatat semua bukti yang disampaikan oleh informan.


  • Mencegah Ketegangan

Interview seharusnya mencegah ketegangan dalam proses wawancara, makan informan tidak menganggap tes. Hal ini mampu memperoleh dengan membagikan beberapa pertanyaan yang sesuai dengan objek dan terarah.


  • Adil

Interview harus sanggup memasukkan diri sebagai orang yang netral dan memandang informan dengan sama. Dengan begitu, interview tetap sopan dan menghargai semua informan tidak tahu bagaimanapun keadaannya.


Jenis-Jenis Wawancara

Berikut ini adalah jenis-jenis wawancara, yakni sebagai berikut:

1. Wawancara Terpimpin

Wawancara terpimpin ialah jenis wawancara dimana interview sudah mempunyai catatan pertanyaan yang sudah komplet dan terdaftar untuk menyajikan kepada informan.


2. Wawancara Bebas Terpimpin

Wawancara bebas terpimpin ialah jenis wawancara dimana interview melaksanakan perpaduan antara wawancara terpimpin dengan wawancara bebas, dimana pengelola sesuai dengan arahan tentang objek yang dibahas.


3. Wawancara Bebas

Wawancara bebas ialah jenis wawancara dimana interview bebas menerima pertanyaan kepada informan, akan tetapi harus tetap mencermati hubungan antara pertanyaan dengan bahan yang penting. Pada wawancara bebas sekali-kali pertanyaan menjadi tak teratur jika tidak berjaga-jaga.


Fungsi Wawancara

Berikut ini adalah fungsi dari wawancara, yakni sebagai berikut:

  • Menjauhi kekeliruan informasi maupun data yang berliku-liku
  • Informasi maupun data dari diperoleh wawancara ialah penambahan informasi awal
  • Menerima informasi secara menyeluruh
  • Memperoleh informasi maupun data yang netral dan adit
  • Menelurusi kesempatan adanya sudut pandang baru atas suatu persoalan

Tujuan Wawancara

Berikut ini adalah tujuan dari wawancara, antara lain sebagai berikut:

  1. Untuk menelurusi dan memperoleh informasi maupun data dari orang pertama
  2. Untuk memenuhi informasi maupun data yang dirangkaikan dari teknik dokumentasi data lainnya
  3. Untuk memperoleh pengesahan dengan menguji hasil dokumentasi data lainnya
Baca Lainnya :  Teks Berita

Hubungan Wawancara

Keberhasilan suatu wawancara sangat ditentukan oleh bagaimana hubungan antara subjek dan pewawancara (Lerbin,2007). Suasana hubungan yang kondusif (disebut juga sebagai rapport) untuk keberhasilan suatu wawancara mencakup adanya sikap saling mempercayai dan kerja sama di antara mereka. Suasana yang demikian dapat diusahakan melalui beberapa cara, diantaranya pewawancara sebaiknya lebih dulu memperkenalkan diri dan mengemukakan secara jelas dan lugas tujuan wawancara yang akan dilakukannya. Hal itu dilakukan dengan sikap rendah hati dan bahwa yang berkepentinagan adalah pewawancara. Pada awal pertemuan, pewawancara juga harus menciptakan suasana yang santai dan bebas serta tidak formal agar proses wawancara dapat berlangsung secara lebih alamiah.


Pewawancara sebaiknya mengawali pembicaraan dengan mengajukan pertanyaan-pertanyaan ‘pemanasan’ sebagai pendahuluan, sekalipun pertanyaan itu mungkin tidak berkaitan langsung dengan tujuan penelitian. Kemudian, secara perlahan-lahan, pewawancara mengarahkan pembicaraan pada tujuan penelitian. Hal itu dilakukan untuk memperlancar proses wawancara. Hal-hal yang ditanyakan pada pendahuluan itu sebaiknya adalah hal-hal yang menarik minat subjek. Dalam keadaan yang demikian, penggunaan ‘bahasa ibu’ dari subjek mungkin akan sangat membantu. Pada pelaksanaan wawancara, pewawancra jangan menunjukkan sikap tidak percaya terhadap dan kurang menghargai jawaban yang diberikan subjek dan ajngan menunjukkan siakp yang tergesa-gesa. Adakalanya subjek mengalami blocking, pikirannya ‘tersumbat’ sehingga proses wawancara tidak berjalan dengan lancar.


Dalam keadaan yang demikian, pewawancara harus dapat membantu subjek untuk keluar dari keadaan itu. Itu dapat dilakukan, misalnya denagn mengalihkan topik pembicaraan ke topik lain untuk sementara waktu.
Hal lain yang perlu diperhatikan oleh pewawancara adalah bahwa ia harus dapat memahami keadaan subjek, ia harus memiliki empati. Dengan cara yang demikain, pewawancara akan lebih dapat mengarahkan wawancara sesuai dengan kondisi subjek. Suatu hal yang penting dalam wawancara adalah si pewawancara dapat mengganti subjeknya (Nazir, 1988). Jika seorang responden misalnya tidak ingin memberikan keterangan tentang suatu hal, maka peneliti dapat pindah mencari responden lain. Tidak demikian halnya dalam pengamatan langsung. Karena itu, si peneliti harus dapat mencari jalan supaya pengamatan terhadap kejadian yang ingin diamati tidak boleh gagal.


Pelatihan Wawancara

Latihan wawancara dilakukan untuk memberikan bekal keterampilan kepada pewawancara untuk mengumpulkan data dengan hasil baik. Karena tidak ada ukuran standar untuk survey ataupun pewawancara, maka tidak ada pula program latihan yang baku. Sifat, materi, dan lamanya program latihan disesuaikan dengan kebutuhan survey yang akan dilakukan. Misalnya tergantung pada jumlah dan kualitas pewawancara, waktu yang disediakan, mudah atau sukarnya kuisioner yang harus dipelajari dan juga besarnya anggaran yang tersedia (Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, 1989). Pada prinsipnya yang harus diberikan selama masa pelatihan formal adalah:

  • Penjelasan tujuan penelitian
  • Penjelasan tujuan tugas pewawancara dan menekankan pentingnya peranan pewawancara
  • Penjelasan tiap nomor pertanyaan dalam kuisioner, baik konsep yang terkandung di dalamnya maupun tujuan pertanyaan tersebut. Pewawancara harus mengetahui dengan tepat maksud semua pertanyaan, agar dapat mengumpulkan informasi yang tepat dan jelas.
  • Penjelasan cara mencatat jawaban responden.
  • Penjelasan cara pengisian dan arti dari semua tanda-tanda pengisian kuisioner.
  • Pengertian yang mendalam mengenai pedoman wawancara, untuk mengurangi sejauh mungkin kegagalan dalam mendekati responden. Pedoman wawancara mencakup etika, sikap, persiapan, dan taktik wawancara.
  • Prosedur wawancara, dari mulai memperkenalkan diri sampai dengan meninggalkan respponden.
  • Orientasi tentang masalah apa yang dapat timbul di lapangan dan bagaimana mengatasinya.
  • Latihan wawancara
  • Diskusi tentang masalah latihan wawancara tersebut.

Pedoman Wawancara

Kesan pertama dari penampilan pewawancara, yang pertama diucapkan dan dilakukan pewawancara, sangatlah untuk merangsang sikap kerja sama dari pihak responden. Berdasarka pengalaman Michigan Survey Research Center diketahui, bahwa responden lebih mengingat pewawancara dan cara dia mewawancarai daripada isi wawancara. Karena itu, segala cara untuk mendapatkan sambutan simpatik dan sikap kerjasama dari responden sebaiknya dipahami dan dilatih dengan seksama. Dalam melaksanakan tugas wawancara, pewawancara harus selalu sadar bahwa dialah yang membutuhkan dan bukan sebaliknya (Masri Singarimbun dan Sofian Effendi, 1989).
Pedoman untuk mencapai tujuan wawancar dengan baik adalah:

  1. Berpakaian sederhana, rapi, tanpa perhiasan
  2. Sikap rendah hati
  3. Sikap hormat kepada responden
  4. Ramah dalam sikap dan ucapan (tetapi efisien, jangan terlalu banyak berbasa-basi), dan disertai dengan air muka yang cerah
  5. Sikap yang penuh pengertian terhadap responden dan netral
  6. Bersikap seolah-olah tiap responden yang kita hadapi selalu ramah dan menarik
  7. Sanggup menjadi pendengar yang baik
Baca Lainnya :  Website Adalah

Keunggulan dan Kelemahan Wawancara

Berikut ini adalah beberapa keunggulan dan kelemahan wawancara yaitu:

1. Keunggulan

Beberapa keuntungan metode wawancara ditinjau dari segi operasional pekerjaan lapangan atau field work (Joseph R. Tarigan, 1995), antara lain:

  • Mengumpulkan data melalui wawancara perorangan biasanya persentase hasil yang diperoleh lebih tinggi karena hampir semua orang dapat diajak bekerja sama
  • Keterangan yang diperoleh melalui metode ini lebih dijamin kebenarannya daripada metode lain, karena petugas pencacah dapat menerangkan daftar/kuisioner tersebut kepada responden sehingga responden memberikan jawaban yang teliti. Apabila responden dengan sengaja memalsukan jawabannya, petugas pencacah akan mencoba menyadarkannya dengan menggunakan pendekatan khusus untuk mendapatkan jawaban yang betul
  • Petugas pencacah dapat mengumpulkan keterangan yang lengkap tentang karakteristik pribadi responden dan sekitarnya dapat menasirkan dan mengevaluasi hasil-hasil yang mewakili dari unit survey
  • Dengan mempertunjukkan secara visual, responden dapat menangkap dan mengerti apa yang dimaksud
  • Kunjungan ulang (re-visit) untuk melengkapi keterangan yang kurang pada daftar (kuisioner) atau membetulkan kasalahan-kasalahan, biasanya dapat dilakukan tanpa mengecewakan responden
  • Petugas pencacah mungkin berhasil mendapatkan jawaban yang lebih spontan daripada kalau kuisioner tersebut dikirim lewat pos atau ditinggalkan untuk diisi oleh responden

2. Kelemahan

Berikut ini adalah beberapa kelemahan dari wawancara yaitu:

  1. Pengaruh pribadi petugas pencacah dalam pelaksanaan wawancara dapat menghambat jawaban responden. Contohnya: apabila pencacah menunjukkan sikap tertentu (memaksakan pendapat), maka tanpa disadarinya akan menanyakan pertanyaan-pertanyaan yang memberikan konfirmasi atau menguatkan pandangannya sendiri. Bagi petugas pencacah yang memiliki sikap wawancara seperti ini, dianjurkan untuk menanyakan pertanyaan sesuai dengan kata-kata yang terdapat dalam kuisioner.
  2. Jika pencacah kenal dengan responden, maka mungkin responden akan keberatan untuk memberikan keterangan-keterangan yang bersifat pribadi. Responden mungkin menganggap hal ini sebagai mencampuri urusan pribadi dan menghilangkan sifat rahasia survey ini.

Proses Wawancara 

Untuk memperoleh informasi yang rinci dan obyektif, seorang penyelidik dalam mengadakan wawancara tidak dapat bersikap egois dalam arti hanya mementingkan kebutuhannya sendiri semata-mata tanpa memperhatikan situasi orang yang diwawancara. Benar ia memerlukan data, data yang seteliti-telitinya dan sebanyak-banyaknya. Tetapi sementara ia harus dapat menggali fakta-fakta yang sedalam-dalamnya, ia tidak bisa mengabaikan perasaan dan reaksi benda hiduup yang simpati dan antipati, serta mempunyai kebebasan untuk menjawab atau tidak menjawab pertanyaan yang diajukan kepadanya. Ia bisa tersinggung oleh sikap dan kata-kata, dan ia bisa berbuat acuh-tak-acuh atau memberi jawaban yang tidak semestinya. Oleh sebab itu tak akan pada tempatnya jika penyelidik bersikap tak mau tahu terhadap kenyataan itu, tetapi ia mengharapkan informasi yang sebaik-baiknya dan secukup-cukupnya dari yang diwawancara.


Tahapan-Tahapan Wawancara

Berikut ini adalah beberapa tahapan tentang wawancara yaitu:

  • Tentukan jenis wawancara yang akan digunakan. Kalau penelitian kualitatif, sebaiknya gunakan wawancara tidak terstruktur untuk pewawancara yang sudah berpengalaman, atau semi terstruktur untuk pewawancara yang belum berpengalaman.
  • Rencanakan item pertanyaan dengan baik sehingga pelaksanaan akan lebih efisien. Pewawancara harus mengerti tentang topik penelitian dan informasi apa saja yang akan diungkap dari responden.
  • Bagi pewawancara yang belum berpengalaman, tidak ada salahnya untuk melakukan latihan, atau simulasi terlebih dahulu. Bisa juga dengan mengikuti proses wawancara yang dilakukan oleh rekan yang lebih senior.
  • Gunakan sarana semaksimal mungkin sehingga informasi yang ada tidak terlewatkan. Buatlah panduan dengan checklist (seperti metode dokumentasi) atau gunakan alat perekam audio atau video.
  • Aturlah waktu dengan baik agar pelaksanaan wawancara dapat berjalan dengan efektif dan jika perlu dapat dilakukan tatap muka lebih dari satu kali sesuai dengan keperluan penelitian.

Waktu dan tempat wawancara harus dirundingkan sebaik-baiknya agar penetapan waktu dan tempat tidak terlalu menekan keadaan yang diwawancara. Akan lebih baik jika penetapan waktu dan tempat itu diserahkan kepada yang diwawancara. Jika yang diwawancara menginginkan privacy, hal ini hendaknya tidak menjadikan keberatan pewawancara. Field & Morse (1985 dalam Holloway & Wheeler, 1996) menyarankan bahwa wawancara harus selesai dalam satu jam. Sebenarnya waktu wawancara bergantung pada partisipan. Peneliti harus melakukan kontrak waktu dengan partisipan, sehingga mereka dapat merencanakan kegiatannya pada hari itu tanpa terganggu oleh wawancara, umumnya partisipan memang menginginkan waktunya cukup satu jam. Peneliti harus menggunakan penilaian mereka sendiri, mengikuti keinginan partisipan, dan menggunakan waktu sesuai dengan kebutuhan topik penelitiannya.

Baca Lainnya :  Pengertian Qiyas

Umumnya lamanya wawancara tidak lebih dari tiga jam. Jika lebih dari tiga jam, konsentrasi tidak akan diperoleh bahkan bila wawancara tersebut dilakukan oleh peneliti berpengalaman sekalipun. Jika dalam waktu yang maksimal tersebut data belum semua diperoleh, wawancara dapat dilakukan sekali lagi atau lebih. Beberapa kali wawancara singkat akan lebih efektif dibanding hanya satu kali dengan waktu yang panjang. Berbicara dengan orang lain merupakan aktivitas yang relatif mudah, tetapi melakukan wawancara merupakan kegiatan yang tidak mudah. Hal ini disebabkan wawancara memiliki batas-batas metodologis yang harus dipatuhi oleh pewawancara, sedangkan berbicara (ngobrol) tidak memiliki metodologi tertentu, dalam arti orang boleh saja mengajak ngobrol lawan bicaranya sesuka hati tanpa dikendalikan oleh misi pembicaraannya.


Untuk melaksanakan wawancara dengan baik, maka ada beberapa faktor utama yang harus diperhatikan dalam wawancara yaitu: bagaimana pewawancara, apa isi wawancara, bagaimana situasi wawancara, dan bagaimana kesiapan responden. Paling utama di dalam melakukan wawancara adalah memperhatikan kemampuan pewawancara dalam mengendalikan wawancaranya. Efektivitas wawancara banyak tergantung pada pewawancara. Dalam beberapa situasi, diketahui, perasaan rasa aman dari pewawancara atau responden juga menentukan makna jawaban yang dibutuhkan. Dalam keadaan yang tidak menjamin rasa aman, kadang kala orang akan bertanya lain atau menjawab lain dari apa yang sesungguhnya dilakukan, ini semua agar mereka terhindar dari kesulitan yang dibayangkan akan terjadi.


Contoh Wawancara

Berikut ini adalah contoh wawancara yaitu:

Hasil Wawancara
    Anggota :

  1. Solehatun
  2. Roihotul Lestari
  3. Ayu Setia Dewi
  4. Ade Atika Fauziyah

Tema (1) 
PENANAMAN POHON TERONG
(Narasumber : Petani Terong)


Pewawancara : Selamat siang bu, perkenalkan kami siswa SMP Ma’arif NU 3 Jatinegara ingin mengajukan beberapa pertanyaan berkaitan dengan penanaman pohon terong. Apakah Ibu bersedia?

Narasumber : Oh, ya.. Silahkan, dengan senang hati, saya akan menjawab sebisa saya.

Pewawancara : Langsung saja ya bu, Bagaimana cara penanaman terong?

Narasumber : Pertama-tama siapkan tempat untuk menanam biji terong/ledeng, lalu diberi pupuk KPK, kemudian biji terong tersebut disebar dalam tanah yang sudah diberi pupuk KPK tersebut lalu disiram setiap hari, pagi dan sore.

Pewawancara : Apa yang diperlukan untuk menanam terong?

Narasumber : Alat yang digunakan adalah cangkul dan clurit.

Pewawancara : Obat atau pupuk apa saja yang diperlukan untuk menanam terong?

Narasumber : Pupuk/obat yang digunkan adalah : garam, TS, obat akodan, untuk menghilangkan hama ulat, pupuk KPK.

Pewawancara : Selama berapa hari pohon terong akan tumbuh?

Narasumber : Pohon terong akan mulai tumbuh pada saat berumur 2 bulan.

Pewawancara : Pada umur berapa hari/bulan pohon terong akan berbuah?

Narasumber : Pohon terong akan berbuah pada saat berumur 2 bulan.

Pewawancara : Berapa bulan terong bisa dipanen?

Narasumber :  Terong akan mulai dipanen jika sudah berumur 3 bulan.

Pewawancara : Terima kasih telah bersedia diwawancarai bu, informasi dari anda telah menambah wawasan kami tentang cara penanaman terong.

Narasumber :  Ya, sama-sama. Mudah-mudahan informasi yang saya berikan berguna bagi kalian.

Data Narasumber :
Nama                      : YANTI
NIK                        : 3328075010870005
TTL                        : Tegal, 10 November 1987
Jenis Kelamin        : Perempuan
Alamat                   : Desa Padasari RT. 004/001
Agama                   : Islam
Status Perkawinan : Kawin
Pekerjaan               : Mengurus Rumah Tangga
Kewarganegaraan  : WNI


Demikian Penjelasan Materi Tentang Wawancara Adalah: Pengertian, Pengertian Menurut Para Ahli, Ciri, Jenis, Fungsi, Tujuan, Hubungan, Pelatihan, Pedoman, Keunggulan, Kelemahan, Proses, Tahapan dan Contoh Semoga Materinya Bermanfaat Bagi Siswa-Siswi.